berkata-kata dengan lukisan, melukis dengan kata-kata

THE ABNORMAL EGGS OF CONSCIOUSNESS

Just give me canvas every day, and I will tell you different stories in every piece.

Latest

Lengkungan dan Lingkaran

Keenam lukisan ini dibuat berseri, semua selesai dalam 2 hari, mengikuti gaya ornamen khas Dayak Kalimantan yang dipenuhi lengkungan dan lingkaran harmonis dan dinamis dengan warna-warna cerah.

Dalam pewarnaan ornamen Dayak, sebenarnya hanya dikenal warna 5 Ba, yaitu Bahandang (merah), Bahenda (kuning), Bahijau (hijau), Baputi (putih) dan Babilem (hitam), tapi dalam keenam lukisan ini sengaja dimasukkan warna biru (prussian blue) karena awak kehabisan cat warna hitam, dan di sebagian lukisan memang ingin menunjukkan dominasi warna biru, warna pendatang baru yang memang sedang mengharu-biru di semua-mua mana-mana.

Lukisan-lukisan ini seluruhnya bermedia cat minyak di atas kanvas berukuran 70cmX90cm, judulnya terserah Anda, mau dibolak-balik atas bawah atau kiri ke kanan pun terserah Anda. Selamat menikmati.

This slideshow requires JavaScript.

Eksplorasi 3 Gaya Lukisan Kuda

Sebulan terakhir ini, kami coba-coba eksplorasi gambar kuda dan melukis bareng bersama teman-teman di studio.

Mulai dari awal lagi, latihan skets, drawing, hingga naik kanvas dengan gaya palet tebal bertekstur, tipis halus hanya menegaskan garis-garis substansial dan kombinasi polesn halus tipis dengan brush stroke.

Kuda-kudanya Pak Basuki memang mooi…

Selamat menikmati.

Isis

Yes, she’s Isis.

Ladies beware, she’s coming to town

Gentlemen, prepare yourselves,

she brings you cursed fortune & painful knowledge through your darkest secret ever

pain malady disaster for who loves the green flowery snake widow of Osiris

“Isis”, Yes, 2011, oil on canvas, 160cm X 190cm.

The Making of “Penyaliban”

Jelang perayaan kelahiran Yesus Kristus 2011, kuteringat penyaliban-Nya. Inilah proses pembuatan lukisan “Penyaliban”, oil on canvas, 110cm X 140cm.

1. Sketsa dan dasaran.

2. Blok warna

3. Isi warna dan gradasi

4. Penggelapan dan penegasan bentuk

5. Tambah warna terang, atur komposisi ruang dan dimensi volume

6. Menata fokus

7. Blur latar & penajaman objek

8. Pencahayaan, selesai.

Thank God, merry christmas everybody!

Dari Kapal Induk, tepian rimba belantara, Desember 2011.

Olah Rasa Limbah

Di Palangka Raya dan sekitarnya banyak tersebar sisa-sisa kebakaran hutan dan limbah penggergajian kayu.

Sangat menggoda hasrat berkarya. Inilah hasilnya.

Proses pembuatan “Urban Scape”

Urban Scape setengah jadi.

Dari sisa-sisa kebakaran hutan.

Masih banyak lho bahan baku tersebar gratis, ayo siapa mau nimbrung?

Coba-coba Gaya Etnik Dayak

sembilan purnama melanglang buana ke tanah asal,

belajar dari akar darah

coba resapi setitik getah di tetesan tanah penuh sejarah

Tarian Malam, meliuk di antara buaya dan enggang, patuh atau melawan, setimpal perbuatan. Mixed media on board, 60 cm X 120 cm, Luk. Mos. 2011.

Penguasa tanah, uang dan manusia menari laksana budak di hadapan para jelata. Mixed media on board, 60 cm X 120 cm, Luk. Mos. 2011.

Kabur lebur garis indah budaya leluhur digerus arus sungai baru. Mixed media on board, 60 cm X 120 cm, Luk. Mos. 2011.

Menyatu dedaunan Semar melepas kentut maut menekuk garuda sekarat. Mixed media on board, 60 cm X 120 cm, Luk. Mos. 2011.

Hujan minyak di tanah seberang, langka minyak di tanah penghasilnya. Mixed media on board, 80 cm X 120 cm, Luk. Mos. 2011.

Mimpi makmur di awang-awang. Mixed media on board, 60 cm X 120 cm, Luk. Mos. 2011.

Telengas getas, hancur jadi abu. Mixed media on board, 60 cm X 120 cm, Luk. Mos. 2011.

Tangan hitam cemar mencari mangsa. Mixed media on board, 60 cm X 120 cm, Luk. Mos. 2011.

Kebaikan hati membawa celaka. Mixed media on board, 60 cm X 120 cm, Luk. Mos. 2011.

Tambang sejati bukan dari bawah tanah, di langitlah sumber semua. Mixed media on board, 60 cm X 120 cm, Luk. Mos. 2011.

Ruwet pamongnya, gila pengayomnya. Mixed media on board, 60 cm X 120 cm, Luk. Mos. 2011.

Mestinya tak ada biru, biarkan warna kami saja yang ada, jangan ikut-ikut pilkada! Mixed media on board, 60 cm X 120 cm, Luk. Mos. 2011.

Matahari marah, semua dibuatnya hamil bencana. Mixed media on board, 60 cm X 120 cm, Luk. Mos. 2011.

Gara-gara ada emas di tanah moyang, terusirlah kami gar tak mati. Mixed media on board, 60 cm X 120 cm, Luk. Mos. 2011.

Semut jadi kodok, gajah jadi iblis, larilah kau monyet! Mixed media on board, 60 cm X 120 cm, Luk. Mos. 2011.

Impikan Ayu Tingting, pertaruhkan isi perut

untuk Benang Bintik

Untuk Benang bintik lagi

Lemas di arus banjir biru

Semoga tak pecah dan terserak tulang belulang leluhur

Gejolak…

Di balik indahnya telawang, tersembunyi tombak berbisa

biarkan dan dengarkan tingang bicara, jangan sampai naga bertindak

Indahnya keseimbangan yang toleran. Oil on canvas, 160 cm X 140 cm, Luk. Mos. 2011.

Siap grak, siap terima kentut harian. Mixed media on board, 60 cm X 120 cm, Luk. Mos. 2011.

This slideshow requires JavaScript.

 

 

 

 

BORN FREE NONSENSE

Ups, I saw my kid’s diary opened, writing about me

she said:

Once upon a time, my daddy was a hard worker,

such a brilliant rain maker.

Nothing he can’t do, worse than Midas,

he could make stones cried and dragons laughed.

Wherever he was, people happy & obey as puppy,

some because of money, others for honey.

But someday some evil hit him hard so that he lost his faith,

loosing all his magic, took out all daddy’s spirit.

Now he’s just a looser, loosing all power;

big dreamer, dreaming of going everywhere building

his own emperor from nowhere but his narrow dirty office.

God please help my daddy, heal him, release him, relief him,

or if you won’t; just take him away with You!

Suddenly I cried loud and feel free to get my wall beside me muralized :

ha ha ha… this is all about freedom

freedom to fight, freedom so that anyone could sleep

free from fear,

free from scary powerful evil in browned uniform,

with angel’s masks on their rotten face

Ugh, let ‘em all burnt down tonight…

BINATANG AKU

Sadar ku kini, aku binatang

Kala belia dan harus memilih antara kerja keras menimbun emas dan kuasa atau menghimpun pengalaman, aku memilih melanglang buana tanpa tujuan

Hartaku kini adalah setimbun kepahitan dan setitik emas bernama kesadaran

Sadarku kini aku binatang,

bermulut aku hanya untuk bicara bak binatang

berotak aku hanya untuk berpikir jalang

berperut aku dan tak pernah kenyang

dan, ah… tiba-tiba seseorang memberiku pangkat, kuasa untuk berlipat-lipat lebih bejat, semakin ku bejat semakin aku kuat

belum puas pula dengan segala nikmat, tiba-tiba aku memperoleh jubah dan mimbar, lalu bicara di hadapan umat mengajarkan berlaksa-laksa hujat, semakin ku sesat, semakin aku dipuja-puji

Sadar ku kini, aku binatang tak lelah-lelah berjahat-jahat

Dibelengggu dan dibekap tak memupus lautan niat laknat, mengalir memenuhi udara, menetes di tiap titik keringat, lalu menjadi sungai beracun, siap tumpah, meresap, menguap, menyebar dan terus menular

Dapatkah cambuk merubahku? Mustahil, aku kan kian beringas!

Dapatkah jeruji mengurungku? Mustahil, di sana ku malah bebas!

Dapatkah peluru menghentikanku? Mustahil, tubuhku tak mempan senjata dan aku punya berlapis-lapis jiwa

Lalu namun ternyata kemudian, sejak lama Ia tahu aku tak punya Roh….

Pemberian Roh-Nya menaklukkan kebinatanganku

Roh itu membuatku beroleh setitik emas bernama kesadaran, kebeningan kasih yang menyadarkan bahwa aku binatang

Pantas aku terbekap, terbelenggu, meski tak sorang pun tahu tatkala aku sadar diri; belum pantas aku bebas

Biarlah tak bebas asalkan lantas menjadikanku makhluk terang.

Ungaran, 27 Januari 2011

MosF (Dalam segala ucapan syukur atas cambuk, jeruji dan belenggu dari-Nya yang menganugerahkan kebebasan sejati)

Lukisan Kesaksian & Pengakuan

DOA SYUKUR

Terimakasih Tuhan Yesus karena Kau memberikanku kesempatan merasakan kekurangan, sebab itulah aku mengerti makna bersyukur dalam kecukupan

Terimakasih Tuhan Yesus karena Kau memberikanku kesempatan berkelebihan, sebab itulah aku mengerti bahwa tak berbagi dalam kelebihan adalah kesalahan

Ampuni aku Tuhan karena menjauh dari Engkau dan terimakasih karena cobaan yang Kau ijinkan kuterima menyadarkanku…

Kini kumengerti betapa berharganya penyadaran dan betapa tak ternilainya sebuah kesadaran akan ketuhananMU!

Meski penyadaran itu berawal pahit dan kesesatan itu berawal manis, dengan kesadaran; pahit atau manis seharusnya senantiasa membuatku sadar, dan sadar membuatku senantiasa bersyukur.

 

"Muda menutup mata, tua merana", Karya: Moses Foresto, 2010, Oil on Canvas, 110cmX140cm.
“Muda menutup mata, tua merana”, Karya: Moses Foresto, 2010, Oil on Canvas, 110cmX140cm.

Teringat akan puisi tahun 2008, dalam bebal tak berbatas, kemunafikan merajalela… sang pendusta kembali terhilang…

DOA ANAK HILANG

Dengan cara yang lembut dan tepat, Tuhan bertindak keras kepadaku.

Ia tahu persis apa yang kuperlukan.

Seperti dinding yang kokoh pagarnya tegas pada saat aku lemah dan lelah, bukan untuk menghimpit namun menjadi penopang yang mengendalikan jalan hidupku agar tak roboh dan tersesat.

Tersesatlah aku karena tidak menghasilkan buah-buah Roh melainkan buah-buah kedagingan yang menjerat leher dan menyesatkan.

Telah kupilih sendiri,  hasilkan buah-buah dalam Roh dan kebenaran bukannya hasilkan buah-buah dosa namun tidakanku berlawanan dengan pilihanku, sebab aku lemah dan bodoh

Saat ini buah-buah dosa menjadi bebanku. Buah-buah itu mengejar dan tak rela melepaskanku.

Tamengku, Perisai yang baik telah kuretakkan dengan dosa-dosa tak terhingga, bahkan kubuang dan kutinggalkan

Sekarang saatnya aku menentukan tindakan

Menjadi seperti Kain yang mengobarkan amarah pada Tuhan dengan menyalahkan Habil serta orang benar lainnya

Menjadi seperti Saul yang mengandalkan kekuatan sendiri, mencari Tuhan dengan tidak layak dan tak berkenan

Menjadi seperti Simson yang menjadi tak taat setelah menerima berkat dan bertindak tanpa hikmat

Tidak Tuhan, jauhkan aku dari pilihan-pilihan itu, aku mau seperti Daniel yang menguduskan diri demi Allah yang hidup

Aku mau seperti Daud yang dengan hikmat menyesali perbuatannya, hidup benar, layak dan berkenan di hadapan Engkau Tuhan

Jika terlalu jauh dan berat untuk menjadi seperti Paulus, aku mau seperti Stefanus yang hidup dan mati dalam kebenaran

Tuhan, setiap kali berbuat dosa aku membukakan celah bisa dan racun mencelakakan jiwaku..

Tak terhitung kini dosa-dosaku

Tak terhitung pula racun di dalam jiwaku

Kini ya Bapaku, kuduskanlah kiranya aku dari segala macam racun itu

Dengan berperisaikan Engkau, hindarkanlah aku dari serangan Iblis.

Aku milikMu ya Tuhan

Engkau yang telah menebusku dari kesia-siaan dan membawaku kepada kemuliaan anak Raja, namun semua pernah kutinggalkan untuk hidup dalam penyiksaan dan mengarahkan hidupku pada api neraka dalam kekekalan

Ampuni aku… maafkan aku, Tuhan Yesus

Terimalah aku kembali, anak hilang yang tak tahu diri

Kini aku sadar dan mencari Engkau, ijinkan lagi aku menemukan Enkau dan menautkan diriku denganMu ya Allah.

Terimakasih Tuhan Yesus Kristus, Amin.

Ungaran, 7 Oktober 2008

IJINKAN AKU KEMBALI, BAPA…

BERI HAMBA KEKUATAN…

MESKI BERKALI-KALI TERHILANG,

TERIMALAH HAMBA KEMBALI…

Ungaran, 24 Januari 2011

SAHABATKU PERGI…

Nyong, kata mereka tadi malam kau mati
Bagiku belum, apa katamu?
Kenangan akanmu masih hangat berdarah-darah
Kurus kerempeng, gagah gayamu berdiri
Sahabat sejati, sahabat sehati kini pergi
Boleh darah daging tulangmu menyatu tanah
Persahabatan kita abadi, sejati seabadi tanah
Perih memang dan aku menangis sedih

Hanya satu yang membuatku bahagia,
di pembicaraan terakhir kita kau bicara
berserah dan bertindak dalam iman percaya
yang kan membawamu ke surga mulia
Sahabat kita di sana akan mengurusmu
Tiada lagi kuatir, tenanglah kau bersama Dia
dan jangan lupa sampaikan salamku untukNya!

(Hatiku terpenggal kau bawa ke perut bumi, tunggulah hingga nanti kita lanjutkan obrolan di alam sana) Ungaran, 7 Des. 2010.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.