She’s still bothering my mind

Once she came, all never be the same as it was before

all just imagination, mentioned as truth, thought as reality

my whole world changed, till some day I reached her hair

never let go, never let go

Image

She’s Still Bothering My Mind, mixed oil and acrylic on canvas, 140cmX140cm, Mos Yes 2012.

The Wild Beasts, Please Live again! (I miss your painterly & strong color!)

Les Fauves (French for The Wild Beasts) were a short-lived and loose grouping of early 20th century Modern artists whose works emphasized painterly qualities and strong colour over the representational or realistic values retained by Impressionism. While Fauvism as a style began around 1900 and continued beyond 1910, the movement as such lasted only three years, 1905–1907, and had three exhibitions. The leaders of the movement were Henri Matisse and André Derain.

Matisse_-_Green_Line

Matisse_-_Green_Line

Besides Matisse and Derain, other artists included Albert Marquet, Charles Camoin, Louis Valtat, the Belgian painter Henri Evenepoel, Maurice Marinot, Jean Puy, Maurice de Vlaminck, Alfred Maurer, Henri Manguin, Raoul Dufy, Othon Friesz, Georges Rouault, the Dutch painter Kees van Dongen, the Swiss painter Alice Bailly, and Georges Braque (subsequently Picasso’s partner in Cubism).

An oil painting is painterly when there are visible brushstrokes, the result of applying paint in a less than completely controlled manner, generally without closely following carefully drawn lines. Works characterized as either painterly or linear can be produced with any painting media, oils, acrylics, watercolors, gouache, etc. Some artists whose work could be characterized as painterly are Pierre Bonnard, Francis Bacon, Vincent van Gogh, Rembrandt, Renoir, and John Singer Sargent. In watercolor it might be represented by the early watercolors of Andrew Wyeth.

In contrast, linear could describe the painting of artists such as Botticelli, Michelangelo, and Ingres, whose works depend on creating the illusion of a degree of three-dimensionality by means of “modeling the form” through skillful drawing, shading, and an academic rather than impulsive use of color. Contour and pattern are more in the province of the linear artists, while dynamism is the most common trait of painterly works.

MosF, Nop. 2010

Serial Fabel Nonsense Bagian 1: “Negeriku Kini”

Anjing Kepala 2

Anjing Kepala 2

1.

Anjing kepala dua

Mencari Naga

Kelola Negara

Tak bisa melengkung

Hanya ditelikung

Bebas terkurung

Tinggi lancung melambung

Terhempas limbung…

Karena emas pemimpin terpasung

Sisakan rakyat belatung

Satu-satu dipancung

Lupakan diri, nonsense cogito ergo sum, mendingan linglung

Anjing Ekor Buaya

Anjing Ekor Buaya

2.

Anjing penjaga berekor buaya

Pemangsa rakyat harapan bangsat

Anjing gembala harapan bangsa

Domba disikat, hukum dikerat

Anjing penjaga, anjing khianat

Wasit diterjang, tuannya diserang

Anjing bejat, anjing laknat

Tuan dijilat, tuan dilumat

Anjing kurap pemburu emas

Kejar suap peramu culas

Belatung diperas, bintang jadi pedang

Domba ditindas, seragamnya alatnya berdagang

Pelanduk Ekor Ular

Pelanduk Ekor Ular

3.

Pelanduk licik berseragam apik,

berekor ular cerdik

Waspadai jika balik berbaik-baik,

mengembik seraya kentutkan kata-kata tengik

Jika tertindas, jangan mengadu

Datang melapor kau dicekik ditipu

Wajah sendu nan apik

Berganti rupa ular munafik, bukannya dibantu, kau dicabik-cabik

Ular perayu, pelanduk memelas

Katak terjebak, kumbang ditumpas

Air susu dibalas air tuba, salah memilih salah menduga

Pelanduk manis dikira utusan surga

Ekornya mematuk, tumpahkan bisa di atas luka

Pelanduk manis prajurit neraka

Pimpin negara alas angkara

Penumpang istana halalkan dosa

4.

Keladi gatal tumbuh subur

Bersisian singkong beracun

Petani bersyukur impikan makmur

Mati mendongak di batas kebun

Pupuk habis air pun kering

Sekering janji beringin rindang

Di birunya langit mendung, angin berpusing

Pening menunggu nyatanya nyanyian bintang

Bagai air di daun talas

Talas tandas, sisakan racun keladi

Bergabung penjudi dan si culas

Bintang – Beringin seuang tiga tali,

Katanya berbeda, akhirnya sama saja

Gemar memeras banyak berdusta

Nafsu berkuasa, tebar janji-janji mantra-mantra

Saat ditagih bersalin rupa srigala

Bintang bertanduk,

beringin pun layu membara

Rerumputan hijau hangus terbakar jumawa

Lupa diri lupa segala,

akar tertipu, batang tertawa

Buah pahit terpencar,

pucuk layu racun disebar

5.

Kutu busuk diberi jubah raksasa

Memegang pedang menggenggam palu

Tikus buta menjaga kitab, kitab sakti martabat bangsa

Babi mengaum laksana singa, semua dia tahu, semua dia mau

Garuda menangis tak kuasa tanggung malu

Pedang silat lidah, sidang para penanggung tulah

Tawar menawar di balik jubah

Kitab dibakar uang bicara

Palu diketuk, bedebah pun tertawa

Hidung Hukum Pinokio Bohong

Hidung Hukum Pinokio Bohong

6.

Jika benar saja hukum Pinokio untuk dusta

Monyet-monyet pun berhidung mancung

Tak ada lagi menteri bermuka rata

Kaum pesek habis dipancung

7.

Siapa raja siapa rakyat? mana penguasa mana hamba?

Jalan negara bukan jalan raja, jalan raja jalan sang penguasa

Partai raja bukan pemilik bangsa

Partai hamba bukan pula perongrong penguasa

Sibuk berdagang kaum kusir partai

Berebut kursi, si bodoh terbantai

Partai kusir partai pedagang

Pandai bertabir simulut jalang

Berkilah kusir membawa damai

Berbujuk-bujuk pura-pura bertikai

Kuda Partai Catur

Kuda Partai Catur

8.

Bersidang kaum pewakil catur partai raja-raja

Partai segala, koalisi hitam putih

Bukan kuda bukan pula zebra

Tak kotor, tak pula bersih

Atas abu-abu bawah berkabut

Kanan tak jelas, kiri samar-samar

Pantat di muka, muka di buntut

Hati di buah zakar, nurani buyar

Koal-“isi”, koal-“kulit”

Mari bersatu bagi-bagi duit

Koal-“isi”, koal-“kosong”

Bagi-bagi kuasa lalu nyolong

Zebra loreng zebra catur

Mari mencoleng, mari kita atur

panglima loreng panglima catur

Mari mendompleng lalu kaburrrrrr……….

(ditulis tanpa alas, dari kapal tak bernama di lautan bebas tidak jelas…, MosF, 02072010)

Akhirnya lukisan “Panenan Mekekeh” selesai….

Inilah lukisan cat minyak berjudul “Panenan Mekekeh”, dikerjakan bersama di atas kanvar berukuran 1,5 m X 3m dengan teknik palette pada tahun 2007 dengan bimbingan guru melukis saya yang terhormat Alm. Pak Ndut Margono.  Kami mengerjakannya sebagai proses belajar langsung praktek, beliau memberi contoh di satu bidang dan saya mengerjakan di sisi lainnya, itu sebabnya kami sengaja membuat kanvas yang agak melebar.  Foto pertama memperlihatkan saat proses pengerjaan, dan foto kedua adalah lukisan setelah dibingkai dan dipajang.

Panenan Mekekeh

Melukis Panen

Teriring doa untuk pak Ndut Margono, damailah di surga.

PASAR SENI LUKIS INDONESIA 2009 DI SURABAYA

KIPRAH PELUKIS JAWA TENGAH DI PASAR SENI LUKIS INDONESIA 2009

Moses Foresto*

Pada tanggal 1 Mey 2009, Pasar Seni Lukis Indonesia Surabaya 2009 telah dibuka oleh Gus Ipul, Wakil Gubernur Jawa Timur. Pameran yang diikuti oleh lebih dari tiga ratus enam puluh pelukis dari tujuh propinsi itu berlangsung sukses, paling tidak demikianlah bagi para pelukis Jawa Tengah yang dipimpin oleh pelukis senior Wibowo Sanjaya.

PSLI Surabaya 2009

Meladeni Siswi Pengunjung PSLI 2009

Bertempat di Balai Pemuda, rombongan pelukis Jateng berjumlah empat puluh orang berasal dari Semarang, Salatiga, Kendal, Ambarawa, Ungaran, Boyolali, Demak, masing-masing mendapat stan yang apik dan nyaman. Tidak tanggung-tanggung, turut berpartisipasi antara lain pelukis-pelukis senior seperti Noehoni, Harianto, Auly Kastary, Danarso, Win Gottic, dan Ragil Supadi dari Semarang, Totok Setiabudi dan Agus Widodo dari Salatiga, Darto dari Boyolali, Kariman DS, H. Agus Salim, Eko “Dongeng” dari Ungaran, Asep Leoka dari Kendal, maupun angkatan lebih muda yang diwakili pelukis Condro, Slamet Pri, Wahyu Adi, Tulono, Basori, dan lain-lain.

Rombongan pelukis Jawa Tengah memang tampak lebih siap mengikuti pameran ini, berkat koordinasi yang baik antara Wibowo Sanjaya, sang koordinator rombongan dengan panitia penyelenggara. Datang dua hari sebelum pembukaan, ratusan lukisan segera terpajang rapi di sekitar enam puluhan stan pelukis Jawa Tengah sehari sebelum acara dibuka.

Sejak hari pertama karya pelukis Jawa Tengah mendapatkan apresiasi yang baik dari ribuan pengunjung yang memadati Pasar Seni Lukis Indonesia 2009 yang direncanakan berlangsung selama sepuluh hari, sampai tanggal 10 Mey 2009. Berturut-turut sejak pembukaan, keindahan hasil lukisan Hariyanto, Auly, Tejo, Deny, Agus Salim, Ragil, Agus Widodo, terjual laris dan memaksa pengunjung merogoh jutaan rupiah dari koceknya. Bahkan lukisan palet ukuran besar karya Auly Kastary langsung memikat Mari Elka Pangestu, Menteri Perdagangan Kabinet Indonesia Bersatu yang memborong tiga lukisan sekaligus. Menurut berita terakhir, lukisan-lukisan itu “Dipajang di kantor Ibu” demikian menurut salah satu sumber yang turut mendampingi Ibu Menteri. Tahun lalu pada event yang sama, dua perupa asal Jawa Tengah Auly Kastari, dan Asep Leoka, bersama perupa asal Surabaya Asri Nugroho, berkolaborasi mengabadikan wajah Pak Ci, panggilan Ciputra. Membanggakan, tentunya.

Sebagaimana pameran yang sama tahun lalu, karya yang ditampilkan pelukis Jawa Tengah terbukti masih tangguh menerobos pasar. Bukan hanya pasar Jawa Timur, beberapa galeri dari Jakarta dan kota besar lain pun terlihat aktif bertransaksi dengan para duta seni lukis Jawa Tengah. Karya pelukis Semarang yang didominasi aliran realis, sangat bervariasi baik dari aspek tema maupun teknik berkarya.Sebagaimana ciri khas konsep realisme, detil-detil objek diolah secara teliti. Misalnya lukisan perahu, baik bentuk badan perahu, linggi maupun layarnya benar-benar memperlihatkan detil yang apik. Gambar kerbau atau angsa pun memperlihatkan penguasaan dan penghayatan objek yang sungguh mendalam. Hewan dalam lukisan karya mereka benar-benar “berjiwa”, berkarakter dan beberapa di antaranya tampil teatrikal. Lukisan secara jelas memperlihatkan ketekunan, penghayatan dan pencurahan rasa serta teknik berekspresi, yang bahkan bagi penikmat awam pun mudah diapresiasi dan tak segan menghargainya dengan nilai layak. Tak urung, puluhan lukisan asal Jawa Tengah diboyong pembeli sejak hari-hari pertama.

Suasana akrab antar peserta terlihat jelas selama berlangsungnya Pasar Seni Lukis Indonesia 2009. Panitia penyelenggara yang dipimpin oleh Pak Anis terlihat siap dan profesional melayani seluruh peserta. Acara yang dimaksudkan sebagai ajang bertemunya pelukis dan pembeli (kolektor dan pihak galeri) ini jelas berhasil mencapai tujuannya, bahkan memberikan manfaat lebih luas lagi. Ajang ini juga menjadi sarana rekreasi warga Surabaya dan sekitarnya. Terbukti dari pengunjung yang umumnya adalah keluarga, membawa serta anak-anak. Para pelukis rajin memberikan penjelasan bagi para pengunjung, sadar bahwa mereka perlu mengedukasi untuk meningkatkan apresiasi. Bagi para peserta sendiri, ajang ini menjadi wadah belajar. Yang senior menjajagi kemampuan penetrasi pasar, sedangkan yang muda belajar dari cara seniornya beradaptasi dengan pasar tanpa harus kehilangan rasa dan idealismenya.

Pasar Seni Lukis Indonesia telah dicanangkan masuk menjadi salah satu ajang seni rupa nasional dengan kalender tahunan. Manfaatnya besar bagi dunia pariwisata Jawa Timur. Selama acara berlangsung tidak sedikit turis manca negara berkeliaran dari stan ke stan, datang perseorangan maupun rombongan dengan bus wisata. Menyimak keberhasilan pelaksanaan selama dua tahun berturut-turut, tidak musykil penyelenggaraan tahun depan akan lebih baik lagi. Kiranya hal tersebut dapat menjadi cerminan bagi kalangan seni di Jawa Tengah yang “anak-anaknya” telah terbukti sukses tampil dan diapresiasi dengan baik di kampung sebelah. Kapan kita selenggarakan di kampung sendiri?

* Penulis sendiri adalah salah satu peserta dalam ajang nasional ini.