Lukisan Gus Dur

Lukisan Gus Dur

Di tengah kekacauan yang melanda Indonesia dan dunia kini, tiba-tiba aku teringatakan sebuah karya lamaku, sekitar 2 tahun yang lalu. Kala itu aku memimpikan seorang pemimpin sesungguhnya, pemimpi yang visioner bukan sekedar pemimpi kosong (seperti aku sendiri…).

Lukisan ini kubuat sebagai penghormatan akan seorang tokoh besar Indonesia yang seandainya saja menjadi Presiden Amerika Serikat mungkin bisa bikin dunia lebih damai dimana pun kita hidup.


(Kini lukisan ini dikoleksi oleh Ibu Elvina Chandrawati, banjarmasin).

PAMERAN LUKISAN YANG KUIMPIKAN…

pameran lukisan impianku, bukan di istana megah kediaman para raja
bukan pula puri megah trah bangsawan
jauh dari bangsal megah kaum saudagar kaya raya
tak pula di sekitar menara gading kaum cendekia

mimpiku, berpameran di trotoar penuh debu…
sudut lapangan di belakang pedagang kaki lima,
seblah warung nasi kucing tempat abang becak bercengkerama dalam lapar
menghibur diri dan mengucap syukur, sebab masih bisa tersenyum kendati anak-anaknya putus sekolah…

kebanggaanku, bukanlah lukisan terjual berjuta-juta
senyum penyapu jalanan jauh lebih berharga dari pada pujian seratus kurator ternama

ha ha ha ha ha ha…..
dalam lapar di dasar sumur,
aku tertawakan kalian yang di bibir sumur
terbahak pongah menengok kami yang berbedak lumpur

impianku, menjajakan keliling lukisanku keliling kampung kumuh
lalu tetirah di bawah pohon jambu
berbagi lelah dengan mbok jamu
senyum bahagia meski dagangan kami tak laku-laku

pameran impianku, cukup diterangi petromaks dan rembulan di malam hari
tak kuperlu cahaya berlapis
hanya untuk terima wajah-wajah anarkis
bahkan tatap mata bocah bingung di depan kanvasku
lebih berarti daripada sejuta apresiasi berlatar segunung ilmu

ha ha ha… jika kau merdeka karena uangmu
aku pun bebas dengan kanvas dan kuasku
jika kau bahagia karena kekayaanmu
aku pun sejahtera karena syukurku

pameran impianku, pameran penuh ucapan syukur
wadah gelegak amarah terkubur
lebur dalam ketidakmengertian dan tudung ketidaktahuan

lupakan pakem, lupakan harga
cukuplah jika kita duduk bersama
bersaji kopi kental tanpa gula
bersisian deretan lukisan tanpa makna…

(Dari anjing geladak di palka kapal tak bernama, 11 Juli 2010)